Analisa Fundamental Saham Ramayana (RALS) dan Ace Hardware (ACES): Bisnis Ritel di Indonesia

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com dan kali ini saya ingin membahas analisa fundamental saham RALS (PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.) dan ACES (PT Ace Hardware Indonesia Tbk.). Dua perusahaan ritel besar dan ternama di Indonesia dengan bisnis menguntungkan.

Dua perusahaan ini memiliki fokus penjualan yang sangat berbeda. RALS adalah pemain industri ritel di bidang fesyen dan pasar swalayan, sedangkan ACES di bidang perlengkapan rumah tangga dan bisnis. Yang sama adalah mereka sama-sama di industri ritel dan bisnisnya sama-sama menguntungkan.

Perlu saya sampaikan sebelumnya, RALS merupakan bagian dari portofolio saya yang sudah saya miliki dari bulan Mei 2020, sedangkan ACES bukan bagian dari portofolio saya meski salah satu bagian dari perusahaan yang saya sedang amati untuk saya miliki di harga yang tepat.

Nanti saya jelaskan kenapa saya membeli saham RALS tapi belum membeli saham ACES (meski sangat tertarik). Tetapi perlu saya jelaskan, analisa kedua saham ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Saya menggunakan metode analisa value investing saya sendiri untuk analisa kedua saham ini, yang saya sebut sebagai SRRI (Screen, Review, Research, and Invest). Kalau belum tahu itu apa atau belum mengerti istilah-istilah dalam analisa saham, silahkan baca ini. Untuk RALS saya menggunakan metode valuasi standar seperti PER dan PBV. Nah, untuk ACES saya menggunakan metode valuasi Discounted Cash Flow, yang nanti akan saya jelaskan lebih lanjut.

Lalu, sebelum kita lanjut, saya mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5.

Analisa saham RALS

RALS adalah perusahaan publik yang bergerak di bidang ritel fesyen (Ramayana Department Store) dan pasar swalayan (Robinson Supermarket). Perusahaan ini berdiri di tahun 1978 dan menjadi perusahaan publik di tahun 1996. Di akhir 2019, mereka memiliki 117 cabang Department Store dan 81 pasar swalayan di 54 kota di semua pulau besar di Indonesia.

Secara industri RALS masuk ke retail trade. Ada banyak perusahaan di industri tersebut dan waktu saya melakukan tahap Screening di bulan April 2020 untuk mencari perusahaan-perusahaan yang sedang ”murah”, saya menemukan RALS, ACES, DNET (PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. – holding company pemilik gerai mini market Indomaret), dan LPPF (PT Matahari Department Store Tbk.).

Waktu itu saya memilih RALS dan ACES untuk saya teruskan ke tahap Research karena RALS performa bisnisnya bagus dan harganya sedang “murah”, sedangkan ACES karena performa bisnisnya bagus meski harganya tinggi (nanti saya bahas lebih lanjut).

Saya tidak memilih DNET karena meski performa bisnisnya bagus, ini perusahaan yang “aneh”. Bisnis utamanya di bidang teknologi, tetapi mereka memiliki investasi, atau kepemilikan, di Indomaret dan Sari Roti. Indomaret saja di 2019 berkontribusi 107% terhadap laba bersih DNET, jauh lebih besar dari profit bisnis utamanya. Buat apa saya beli DNET kalau begitu?

Saya juga tidak memilih LPPF karena meski harganya murah dan performa bisnisnya lumayan bagus, tetapi hutangnya banyak sekali. DER-nya saat itu di 1.76x (liabilitasnya 176% lebih besar dari ekuitas mereka).

Nah, sekarang mari kita bahas hasil dari tahap Research untuk RALS di bawah ini.

Research saham RALS

Saya menggunakan laporan tahunan RALS dari 2009 – 2019. Berikut performa bisnis mereka selama 11 tahun ke belakang:

  1. Revenue growth (pertumbuhan pendapatan) rata-rata: 2.5% per tahun.
  2. Net profit growth (pertumbuhan laba/profit) rata-rata: 5.10% per tahun.
  3. Net profit margin (marjin laba dibanding pendapatan) rata-rata: 7.91% per tahun.
  4. Free cash flow (FCF, sisa uang tunai dari aktifitas operasi dikurangi belanja aset) kumulatif positif dengan rata-rata IDR 577M per tahun! Total FCF selama 11 tahun terakhir di IDR 6.3T.
  5. Owner’s earnings ratio (rasio belanja aset dibagi uang tunai dari aktifitas operasi) rata-rata RALS sangat rendah, di 0.28 (hanya 28% uang tunai aktifitas operasi mereka untuk belanja aset)! Sangat efisien.
  6. Efficiency ratio (rasio seberapa efisien biaya setiap pendapatan perusahaan) rata-rata: stabil di kisaran 0.64 per tahun.
  7. Return on equity (imbal hasil dari modal) rata-rata: 12.87% per tahun.
  8. Debt equity ratio (ratio hutang dibanding modal) rata-rata: 0.35 per tahun! Sangat sehat.
  9. Price earnings ratio (PER, rasio harga saham dibanding laba) rata-rata: 16.15x. Tetapi saat saya melakukan Research ini di bulan April 2020, PER RALS ada di 5.5x. Jauh lebih rendah dari PER historisnya. Lalu saat itu saya lihat PER rata-rata industrinya di 17x, berarti 200% lebih rendah harga PER RALS saat itu!
  10. Price to book value (PBV, rasio harga saham dibanding nilai modal) rata-rata: 2.07x. Sama dengan PER, waktu itu PBV RALS ada di 0.86x. Jauh lebih rendah dari PBV historisnya. Lalu, PBV rata-rata industri  saat itu di kisaran 1.49x, berarti 73% lebih rendah dari harga PBV RALS saat itu!

Invest di saham RALS

Dengan rasio PER dan PBV seperti itu, performa bisnis yang bagus, dan jumlah hutang yang kecil, saya sudah yakin mau berinvestasi di RALS. Tapi saya coba gali informasi lebih dalam lagi, untuk melihat siapa tahu masih ada “harta karun tersembunyi” di RALS.

Nah, saya menemukan hal-hal di bawah ini yang memantapkan saya untuk berinvestasi di emiten RALS ini:

  1. Cash current ratio (rasio uang tunai lancar dibanding liabilitas/hutang lancar) ada di 1.11x! Jadi dari total uang tunai RALS saja bisa membayar seluruh hutang-hutang mereka untuk setahun ke depan.
    Lalu, total uang tunai + deposito + kepemilikan tanah mereka “saja” ada di IDR 3.2T.
  2. Total assets mereka ada di IDR 5.6T, sedangkan total liabilities mereka di IDR 1.48T. Jadi aset mereka hampir 4x lebih besar dari semua hutang-hutangnya!
  3. Kapitalisasi pasar mereka saat itu di IDR 3.7T, sedangkan akhir 2019 mereka membukukan penjualan di IDR IDR 5.59T. Jadi mereka bisa membukukan penjualan jauh lebih besar dari harga satu perusahaan. Masuk akal, kah?
    Juga, total uang tunai + deposito + kepemilikan tanah mereka saja hampir seharga kapitalisasi pasar mereka. Tidak masuk akal.
  4. Ditambah lagi, mereka tidak pernah gagal membayarkan dividen selama 11 tahun terakhir.

Karena hal-hal di atas, lah, saya memutuskan untuk menempatkan 15.3% dari portofolio saya di RALS. Target saya untuk menempatkan 16% dana investasi saya di RALS.

Saat post ini ditulis, posisi RALS saya lagi turun ke -7.72%. Tetapi, saya mendapatkan dividen dari RALS senilai 5.96% kepemilikan saya di emiten tersebut. Jadi bisa dibilang posisi RALS saya “hanya” sedang turun ke -1.76% sejak Mei 2020.

Gambar grafik saham RALS dari saya beli di bulan Mei 2020 sampai post ini ditulis. Sedang turun ke -7.72%. Tapi bila ditambah dividen yang saya dapatkan, RALS saya hanya turun ke -1.76%.
Gambar 1. Grafik RALS dari saya beli di bulan Mei 2020 sampai post ini ditulis

Setelah RALS, mari kita bahas ACES.

Analisa saham ACES

ACES adalah perusahaan ritel yang menjual segala jenis perlengkapan rumah tangga dan bisnis. Mereka menjual perabot, perkakas, dan perlengkapan untuk segala isi rumah, kebun, otomotif, industri, dan bisnis. Mereka merupakan perusahaan Amerika, dengan nama sama, yang waralabanya dibawa ke Indonesia oleh PT Kawan Lama Sejahtera di tahun 1995.

ACES menjadi perusahaan publik di Indonesia di tahun 2007. Saat ini mereka memiliki 197 gerai di seluruh Indonesia. Sama seperti RALS, ACES juga masuk ke industri retail trade.

ACES ini merupakan perusahaan yang saya incar dari tahun 2018, waktu saya masih belum jadi fundamental investor (masih murni trading saham). Meski begitu, dari dulu saya sudah tahu ini perusahaan dengan bisnis bagus dan tidak ada saingan sama sekali (nanti saya jelaskan lebih lanjut), jadinya selalu dijual dengan valuasi tinggi oleh pasar.

Intermezzo sedikit, di 2018 saya beli ACES di IDR 1,335 per lembarnya, di bulan Oktober 2018, lalu saya jual di IDR 1,370 per lembar di bulan yang sama. Untung 2.6% (Hahaha!).

Nah, kebetulan, di bulan Mei 2020, saat saya memutuskan untuk berinvestasi di RALS, ACES juga saya lihat kembali. Saat itu PER ACES ada di 21x dan PBV-nya ada di 4.65x. Saya bandingkan dengan rata-rata industri saat itu, masing-masing di 17x dan 1.49x, saya pikir “wah, masih mahal saja nih”.

Well, perusahaan sebagus ini memang wajar kalau selalu divaluasi tinggi oleh pasar. Bodohnya, padahal ada kesempatan buat saya beli dengan valuasi PER rendah di tanggal 24 Maret 2020, kalau saja saat itu ACES saya lihat lagi lebih cepat. Saat itu harga ACES berada di level terendahnya dalam hampir 3 tahun terakhir, yaitu di angka IDR 970. Di angka ini, PER ACES ada di 16x!

Tapi, yah, karena saya terlewat, saya mulai berpikir bagaimana cara valuasi perusahaan yang dihargai mahal oleh pasar. Saya coba-coba google dan cari di YouTube, ketemulah saya dengan video ini. Di sana dibahas cara valuasi fundamental saham dengan metode discounted cash flow (DCF). Sebenarnya saya sudah lama dengar mengenai metode ini, bahkan saya sempat mencoba untuk valuasi ACES dengan metode ini di tahun 2018, tetapi penjelasan-penjelasan yang saya temukan waktu itu tidak ada yang jelas.

Saya suka penjelasan dari video yang tautannya saya berikan di atas, mudah dimengerti dan juga kita diberikan template file Excel yang bisa kita gunakan langsung. Sayangnya, video itu dalam bahasa Inggris. Mungkin teman-teman bisa google atau cari di YouTube untuk artikel-artikel atau video-video yang memberikan penjelasan dalam Bahasa Indonesia. Dulu saya coba cari tapi tidak ada yang bagus.

Anyways, di bawah ini akan kita bahas hasil dari tahap Research saya untuk valuasi saham ACES. Pertama dengan PER dan PBV, lalu dengan DCF juga.

Research saham ACES – Valuasi PER dan PBV

Saya menggunakan laporan keuangan dan tahunan ACES dari 2008 – 2019 dan berikut adalah performa bisnis ACES selama 12 tahun ke belakang:

  1. Revenue growth (pertumbuhan pendapatan) rata-rata: 18.46% per tahun!
  2. Net profit growth (pertumbuhan laba/profit) rata-rata: 25% per tahun!
  3. Net profit margin (marjin laba dibanding pendapatan) rata-rata: 12.27% per tahun.
  4. Free cash flow (FCF, sisa uang tunai dari aktifitas operasi dikurangi belanja aset) kumulatif positif dengan rata-rata IDR 300M per tahunnya.
  5. Owner’s earnings ratio (rasio belanja aset dibagi uang tunai dari aktifitas operasi) rata-rata: 0.55x. Ini cukup bagus. Artinya biaya belanja aset mereka hanya kurang lebih setengah dari uang tunai yang didapat dari aktifitas operasi setiap tahunnya.
  6. Efficiency ratio (rasio seberapa efisien biaya setiap pendapatan perusahaan) rata-rata: 0.54 per tahun. Cukup baik dan efisien. Yang saya lihat ACES di sini sangat konsisten.
  7. Return on equity (imbal hasil dari modal) rata-rata: 22.13% per tahun! Bagus sekali ini, manajemennya pandai dalam mengelola modal.
  8. Debt equity ratio (ratio hutang dibanding modal) rata-rata: 0.21 per tahun! Sangat kecil, manajemennya pandai dalam mengelola hutang.
  9. Price earnings ratio (PER, rasio harga saham dibanding laba) rata-rata: 23.30x. Tetapi saat saya melakukan Research ini lagi di awal bulan Oktober 2020, PER ACES ada di 26x. Sedangkan PER industri lagi turun ke 7x! PER ACES makin mahal sejak bulan Mei 2020, sedangkan PER rata-rata industri sedang turun. 
  10. Price to book value (PBV, rasio harga saham dibanding nilai modal) rata-rata: 5x. Waktu itu PBV ACES ada di 5.7x. PBV rata-rata industri “hanya” di 1.8x. Mahal!

Lalu, beberapa hal yang saya temukan saat saya gali lebih dalam laporan-laporan keuangan ACES, yang makin menunjukkan kalau ACES perusahaan yang sangat bagus:

  1. Current ratio (rasio aset dibanding liabilitas/hutang) ada di 6.2x! Jadi ACES bisa dengan mudah membayar semua hutang-hutangnya yang akan jatuh tempo dalam satu tahun ke depan. Likuid sekali perusahaan ini.
  2. PER to Earnings Growth (rasio PER dibanding pertumbuhan laba, yang murah kalau > 1) rata-rata mereka ada di 1.44. Ini artinya harga sahamnya lebih besar dari pertumbuhan labanya, jadi tidak termasuk saham bagus yang sedang “diskon”.
  3. ACES tidak memiliki saingan di Indonesia! Yang paling dekat hanya JYSK Indonesia dan IKEA. Tapi JYSK hanya menjual perabot semata dan bukan merupakan perusahaan publik di Indonesia. Lalu IKEA Indonesia dimiliki oleh HERO (PT Hero Supermarket Tbk), tetapi bisnis HERO banyak dan hampir 74% bisnisnya dari makanan.

Research saham ACES – Valuasi DCF

Discounted Cash Flow, atau DCF, intinya adalah metode valuasi dimana kita menggunakan performa angka FCF perusahaan beberapa tahun ke belakang untuk kita proyeksikan performa FCFnya beberapa tahun kemudian sampai selamanya. Lalu angka FCF selamanya ini kita tarik ke masa sekarang dan tentukan nilai sekarangnya.

Bingung kah? Saya juga awalnya. Saya kasih contoh sedikit: saya hari ini dikasih orang tua saya IDR 10,000, kalau saya taruh di bank dengan bunga 5% setahun, tahun depan uang saya berarti nilainya IDR 10,500, kan? Nah, misal, orangtua saya kasih IDR 10,000 tadi baru tahun depan, berarti, secara konsep, nilai hari ini dari IDR 10,000 yang baru akan dikasih tahun depan itu sama saja dengan berapa? IDR 9,500, karena yang harusnya saya bisa dapat 5% dari bunga bank, jadi tidak bisa.

Konsep ini namanya time value of money (nilai waktu dari uang), tapi memang contoh di atas saya permudah supaya lebih mudah dipahami.

Metode DCF ini, bagi saya, baiknya dipakai untuk perusahaan yang:

  1. Kinerja bisnisnya bagus dan harus stabil.
  2. Angka total penjumlahan (kumulatif) FCF yang kita ambil harus positif. Kalau ada 1 atau 2 tahun yang negatif tidak apa-apa, tetapi secara kumulatif harus positif.
  3. Sudah memiliki laba (profit), jadi tidak cocok dipakai untuk perusahaan yang masih merugi.
  4. Lebih baik untuk perusahaan-perusahaan besar yang sudah 8 tahun lebih menjadi perusahaan publik.
  5. Divaluasi “mahal” oleh pasar sehingga PER dan PBV amat tinggi.

Oke, di bawah ini adalah hasil dari valuasi DCF untuk ACES yang saya buat.

Gambar file Excel hasil valuasi DCF ACES yang saya buat. Menurut kalkulasi saya, harga saham fundamental ACES saat ini seharusnya di IDR 1,800. Saat post ini dibuat, harga saham ACES ada di IDR 1,545. Ada 16.5% margin of safety.
Gambar 2. Hasil valuasi DCF untuk ACES

Catatan:

  1. Saya menggunakan nilai performa bisnis aktual (yang sudah terjadi) untuk tahun 2016 – 2019 dan nilai ekspektasi performa bisnis untuk tahun 2020 – 2023. Kenapa saya stop di 2023? Karena semakin jauh kita coba prediksi, semakin banyak asumsi yang kita pakai dan bisa jadi semakin tidak akurat prediksi kita.
  2. Untuk discount factor (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai FCF yang kita ekspektasikan/prediksikan untuk masa depan kalau nilai itu kita tarik ke hari ini), saya pakai 7.5%. Ada banyak cara untuk ketemu angka discount rate/factor ini, saya tidak mau pusing, saya pakai angka Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun dan saya lebihkan 5%. Kenapa saya lebihkan 5%? Karena kalau saya mau hasil investasi saya sama dengan SBN, ya, mending saya beli SBN saja, lebih aman. Simple.
  3. Untuk perpetual growth (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai pertumbuhan FCF perusahaan selama-lamanya), saya pakai 3.5%. Saya pakai angka ini karena angka rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 10 tahun terakhir adalah 5.7%. Saya rasa 3.5% angka yang cukup konservatif.

Oke, mungkin saya akan bahas soal DCF ini lebih banyak di masa depan, karena kalau saya bahas ini sekarang, post ini akan terlalu panjang.

Intinya, dengan amat sangat saya permudah (oversimplify), adalah nilai kumulatif FCF milik ACES dari akhir 2020 (awal prediksi dimulai) sampai selamanya, kalau kita tarik ke hari ini akan bernilai sebesar IDR 30T. Selamanya itu sampai kapan? Entah. Bisa 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun ke depan. Nilai IDR 30T itu, kalau kita bagi dengan jumlah saham ACES yang beredar saat ini di 17.51 milyar lembar, akan memberikan kita nilai intrinsik per lembarnya di IDR 1,800.

Saat post ini ditulis di bulan Oktober 2020, nilai per lembar ACES adalah IDR 1,545. Berarti ada margin of safety sebesar 16.5% antara nilai intrinsik ACES dan nilai saham nyata saat ini.

Terus terang, setelah melakukan valuasi DCF untuk ACES ini, saya jadi berniat untuk berinvestasi di emiten ini dan akan saya tahan paling tidak 5-10 tahun ke depan. Tapi, yang masih saya pikirkan adalah berapa persen dari portofolio saya yang mau saya masukan ke ACES ini.

Kesimpulan dari saham RALS dan ACES

Jadi memang ada beberapa perusahaan-perusahaan yang tidak cukup kita nilai/valuasi dengan cara PER ataupun PBV saja. Memang 100% dari portofolio saya, saya valuasikan cukup dengan PER dan PBV, karena kebetulan saya mulai beli perusahaan-perusahaan itu saat awal-awal pandemic Covid-19 masuk ke Jakarta, jadi harga-harganya sedang “murah”.

Tapi perusahaan-perusahaan bagus yang selalu divaluasi tinggi oleh pasar, seperti ACES, akan tidak cukup bila menggunakan PER ataupun PBV saja. Di sinilah metode valuasi fundamental seperti DCF bisa dipakai.

Seperti yang saya bilang di atas, nanti saya akan buat satu post khusus (12 Nov 2020 Edit: bisa baca di sini ya) yang membahas mengenai metode valuasi DCF ini. Untuk sekarang, mungkin ini dulu yang bisa saya bahas mengenai RALS dan ACES, dua perusahaan besar dengan performa bagus. Jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya, sebelum berinvestasi. Bila ada pertanyaan atau masukan untuk saya, silahkan hubungi saya di sini atau tinggalkan komentar di bawah ini.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan: Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

2 thoughts on “Analisa Fundamental Saham Ramayana (RALS) dan Ace Hardware (ACES): Bisnis Ritel di Indonesia”

  1. terima kasih sudah membuat analisa fundamental bbrp saham bagus.
    saat ini sektor consumer sepertinya sedang dihindari. banyak yg sudah turun sangat dalam (unvr, rals, aces, asii).
    apakah ini time to buy (dalam view investor 3-5 tahun) ?

    1. Halo2, terima kasih sudah berkunjung ke blog Stoxets ya. Itu pernyataan yang bagus. Menurut saya ACES sedang murah, dan itu kesempatan yang jarang kan, nanti post ACES ini akan saya update lagi berdasarkan LK kuartal 1 2021. RALS memang ada di portfolio saya, karena ini juga murah. ASII bukan merupakan bagian portfolio saya, tapi saya pernah bahas disini, dan ASII juga menurut cukup murah. Buat 3-5 tahun 3 perusahaan ini bagus sih. Saya kalau ada uang lebih mungkin akan masuk ke ASII/ACES juga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)