GJTL: Analisa Fundamental Raksasa Ban Indonesia dan Salah Satu Saham “Koleksi” Lo Kheng Hong

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com dan kali ini saya ingin membahas analisa fundamental saham GJTL (PT Gajah Tunggal Tbk.).

Sama seperti BMTR (Global Mediacom Tbk.), yang sudah kita bahas beberapa minggu lalu, GJTL juga merupakan salah satu “koleksi” saham pak Lo Kheng Hong, seorang investor legendaris Indonesia yang pernah kita bahas di bulan Mei lalu.

Jadi, di post kali ini, sama seperti saat kita membahas saham PTRO (Petrosea Tbk.) dan BMTR sebelumnya, selain saya akan membahas soal analisa fundamental dari saham GJTL ini, saya juga akan mencoba melihat alasan pak Lo Kheng Hong mulai membeli saham ini di tahun 2017 lalu.

Dan, sekalian saya juga ingin membahas sedikit mengenai kasus yang menimpa GJTL dari tahun 2019.

Nah, tapi seperti biasa, sebelum saya lanjutkan ke analisa saya, perlu saya jelaskan bahwa analisa saham ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Lalu, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Analisa saham GJTL

GJTL (PT Gajah Tunggal Tbk.) adalah perusahaan produsen ban kendaraan bermotor terintegrasi terbesar di Indonesia, dan bahkan di Asia Tenggara. Salah dua merek ban mereka yang paling terkenal adalah GT Radial untuk mobil dan IRC Tire untuk motor.

Perusahaan ini berdiri di tahun 1951 sebagai produsen ban sepeda. Mereka mulai memproduksi ban motor di tahun 1971 (bekerjasama dengan Inoue Rubber Company Jepang)  dan ban mobil di tahun 1981 (bekerjasama dengan Yokohama Rubber Company Jepang). GJTL menjadi perusahaan publik di tahun 1990. Secara industri, GJTL masuk ke Automotive & Components.

Secara kepemilikan, Compagnie Financiere Michelin, anak perusahaan produsen ban asal Perancis Michelin, memiliki saham 10% di GJTL. Lalu, Denham Pte Ltd, sebuah perusahaan holding berbasis di Singapura merupakan pemilik saham pengendali dengan kepemilikan di GJTL sebesar 49.5%. Nah, sisanya, masyarakat memiliki 40.5% dari GJTL.

Denham Pte Ltd sendiri dimiliki oleh GITI Tire Pte Ltd, salah satu produsen ban yang terbesar di dunia, yang berbasis di Singapura.

Oke, bagaimana dengan komposisi bisnis-bisnis mereka? Mari kita lihat.

Bisnis GJTL

Kalau dari segi pendapatan, bisnis GJTL mencetak uang dari tiga sumber:

  • Ban Radial

GJTL memproduksi ban radial, jenis desain ban kendaraan, mobil penumpang dan kendaraan komersial (truk dan bus) yang cocok dipakai di negara-negara maju (atau minimal yang memiliki jalanan yang bagus). Penjualan di segmen ban radial mobil penumpang merupakan penyumbang terbesar pendapatan GJTL di tahun 2020 yakni sebesar 40% dari total penjualan.

Sedangkan kontribusi penjualan ban radial truk dan bus terhadap total penjualan GJTL di tahun 2020 adalah sebesar 10%.

  • Ban Bias

GJTL juga memproduksi ban bias, jenis ban yang biasa dipakai di jalanan negara-negara berkembang. Penjualan ban bias menyumbang sebesar 23% terhadap total penjualan perusahaan di tahun 2020.

  • Ban Sepeda Motor

Penjualan ban sepeda motor menyumbang 23% dari total penjualan GJTL di tahun 2020.

  • Kain Ban dan Karet Sintetis

Divisi ini menyumbang sekitar 4% dari total penjualan GJTL di tahun 2020.

Nah, sekarang mari kita bahas hasil dari tahap Research untuk GJTLdi bawah ini.

Research – Valuasi PER dan PBV

Saya menggunakan laporan tahunan GJTL dari 2011 – Kuartal 1 Tahun 2021 (yang disetahunkan). Berikut performa bisnis mereka selama 10 – 11 tahun ke belakang:

  1. Revenue growth (pertumbuhan pendapatan) rata-rata: 4.72% per tahun.
  2. Net profit growth (pertumbuhan laba/profit) rata-rata: 28.38% per tahun. Secara median, angka ini ada di 18.51%. Tetap merupakan angka yang sangat bagus.
  3. Net profit margin (marjin laba dibanding pendapatan) rata-rata: 2.57% per tahun.
  4. Free cash flow (FCF, sisa uang tunai dari aktifitas operasi dikurangi belanja aset) kumulatif positif dengan rata-rata IDR 192.8 Miliar per tahun. Total FCF selama 11 tahun terakhir di IDR 2.1 Triliun.
  5. Owner’s earnings ratio (rasio belanja aset dibagi uang tunai dari aktifitas operasi) rata-rata: 1.68x. Tinggi karena di tahun 2014, angka belanja aset mereka sangat tinggi dan uang tunai dari aktifitas operasinya kecil. Angka mediannya cukup sehat di 0.79x.
  6. Efficiency ratio (rasio seberapa efisien biaya setiap pendapatan perusahaan) rata-rata: stabil dengan rata-rata 0.81x per tahun.
  7. Return on equity (imbal hasil dari modal) rata-rata: 6% per tahun.
  8. Debt equity ratio(ratio hutang dibanding modal) rata-rata: 1.76x per tahun. Tinggi, tetapi dengan tren mengecil dari tahun 2018.
  9. Current ratio (rasio aset lancar dibanding kewajiban lancar) rata-rata: 1.75x! Sangat likuid!
  10. Price earnings ratio (PER, rasio harga saham dibanding laba) rata-rata: 6.5x. Saat saya melakukan Research ini di bulan Juli 2021, PER GJTL ada di 5.8x. 12% lebih rendah dari PER historisnya.

Saat itu PER rata-rata industrinya ada di 22x, jadi PER GJTL sekitar 338% lebih rendah dari rata-rata industrinya!

  1. Price to book value (PBV, rasio harga saham dibanding nilai modal) rata-rata: 0.77x. PBV mereka saat post ini saya tulis ada di 0.37x. Itu 208% lebih kecil dari PBV rata-rata historis GJTL!

    PBV rata-rata industrinya ada di 1.19x, atau 321% lebih besar dari PBV GJTL saat ini!

Invest di saham GJTL?

Secara valuasi PER dan PBV, GJTL amat sangat menarik.

Seperti biasa, saya selalu mencoba untuk menggali informasi lebih dalam lagi saat saya melakukan Research, untuk melihat siapa tahu masih ada “harta karun tersembunyi” di tiap perusahaan yang saya analisa.

Dan untuk GJTL, hal-hal ini yang saya dapat:

  1. Saat post ini ditulis, total kapitalisasi pasar GJTL ada di IDR 2.6 Triliun. Pendapatan mereka di akhir tahun 2020? IDR 13.4 Triliun! 5x lipat lebih besar! Tidak masuk akal, kan?
  2. Total aset mereka saat ini ada di IDR 18.5 Triliun. 7x lebih besar dari kapitalisasi pasar GJTL. Masuk akal, kah?
  3. Aset lancar GJTL ada di IDR 8.3 Triliun, 3x lebih besar dari kapitalisasi pasarnya.
  4. Bahkan jumlah uang kas, aset finansial, properti, dan aset tetap GJTL di IDR 10.5 Triliun, itu 4x lebih besar dari kapitalisasi pasarnya.
  5. Jumlah dari nomor 4 sebesar IDR 10.5 Triliun, kalau dibagi dengan 3.48 Miliar lembar saham memberikan harga saham per lembarnya di IDR 3,038. Atau 3x lebih rendah dari harga saham di saat post ini ditulis di harga IDR 755 per lembarnya.

Sama seperti saat kita valuasi BMTR, banyak sekali “harta karun”nya! Nah, bagaimana dengan valuasi DCF-nya?

Research – Valuasi DCF

Ini hasil analisa DCF (Discounted Cash Flow) untuk saham ini:

Hasil valuasi DCF untuk saham GJTL. Dengan fair value di IDR 5,211 dan harga saham saat post ini ditulis di IDR 755 Ada margin of safety sebesar 590%. Wow!
Gambar 1. Hasil valuasi DCF untuk saham GJTL
  1. Saya menggunakan nilai performa bisnis aktual (yang sudah terjadi) untuk tahun 2017 – 2020 dan nilai ekspektasi performa bisnis untuk tahun 2021 – 2024.
  2. Untuk FCF/Net Profit – Expected, saya pakai 29.72%. Yaitu, angka FCF/Net Profit tahun 2018. Itu sudah merupakan angka yang konservatif karena rata-rata FCF/Net Profit selama 10 tahun ke belakang saya kalkulasikan dapat 71%. Ya sudah, saya pakai angka yang lebih rendah saja.
  3. Untuk discount factor (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai FCF yang kita ekspektasikan/prediksikan untuk masa depan kalau nilai itu kita tarik ke hari ini), saya pakai 7.5%. Itu saya pakai angka Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun dan saya tambah 0.5%.
  4. Untuk perpetual growth (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai pertumbuhan FCF perusahaan selama-lamanya), saya pakai 2.5%. Rendah supaya lebih konservatif.

Intinya, dengan amat sangat saya permudah (oversimplify), adalah nilai kumulatif FCF milik GJTL dari akhir 2021 (awal prediksi dimulai) sampai selamanya, kalau kita tarik ke hari ini akan bernilai sebesar IDR 18.1 Triliun.

Selamanya itu sampai kapan? Entah. Bisa 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun ke depan. Nilai IDR 18.1 Triliun itu, kalau kita bagi dengan jumlah saham GJTL yang beredar saat ini di 3.48 Miliar lembar, akan memberikan kita nilai intrinsik per lembarnya di IDR 5,211.

Saat post ini ditulis di bulan Juli 2021, nilai per lembar GJTL adalah IDR 755 / lembar. Berarti, ada 590% margin of safety untuk saham ini! Murah!

Kenapa pak Lo Kheng Hong membeli GJTL di tahun 2017?

Kalau kita lihat analisa-analisa di atas, kelihatan, lah, kenapa pak Lo Kheng Hong (LKH) tertarik dengan saham ini.

Saat itu, beliau bilang kalau harga saham GJTL sedang “salah harga”. Beliau bilang “kalau tidak salah harga, saya tidak disini. Kalau Rp3000 saya tidak datang, tapi karena GJTL saat ini Rp600”.

Di harga IDR 600 / lembar saham, PER GJTL di akhir tahun 2017 memang minus, jadi tidak bisa dipakai. Tapi PBVnya memberikan kita 0.37x. Sama dengan PBVnya di tahun 2021 sekarang!

Pak LKH “memborong” lagi saham GJTL di awal tahun 2021, sehingga memiliki 5% dari keseluruhan perusahaan. Anggap dengan pembelian di tahun 2021, pak LKH membeli saham saham GJTL di harga rata-rata IDR 650 / lembar, berarti sudah naik sekitar 16% ke harga saat post ini ditulis di IDR 755 / lembar.

Gambar harga saham GJTL di Maret 2021, seharga IDR 915 / lembar
Gambar 2. Harga saham GJTL di Maret 2021 (Sumber)

Memang kurang menarik sepertinya. Tapi di bulan Maret 2021, saham GJTL sempat menyentuh IDR 915 / lembarnya. Itu berarti kepemilikan pak LKH sudah naik 40% lebih, tapi tetap tidak dilepas oleh pak LKH karena menurut dia pasti karena itu bukan merupakan harga wajarnya.

Cukup jelas, sih, kenapa pak LKH tertarik dengan saham ini.

Kasus yang melanda GJTL

Banyak yang menyebut-nyebut nama Sjamsul Nursalim berkaitan dengan GJTL. Sjamsul adalah seorang tersangka korupsi dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) melalui kepemilikan Sjamsul di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI).

Beliau dibilang memiliki saham GITI Tire Pte Ltd, yaitu perusahaan produsen ban asal Singapore yang memiliki mayoritas saham Denham Pte Ltd, yang memiliki saham mayoritas GJTL. Lalu menantu Sjamsul adalah Tan Eng Ee, Wakil Presiden Komisaris GJTL.

Menurut saya, Sjamsul tidak memiliki kendali atas operasional sehari-hari perusahaan. Terbukti, BDNI yang tutup di tahun 1998, tidak berpengaruh ke operasional GJTL. Jadi untuk ini saya tidak merasa khawatir.

Kesimpulan

Oke, invest di GJTL, kah, kita?

Saham GJTL ini sangat menarik sebenarnya. Secara “nilai wajar” / “value”, GJTL ini sedang under value / di bawah nilai wajarnya. Kenapa? Seperti yang saya bilang di atas:

  1. Secara valuasi PER dan PBV, GJTL di bawah rata-rata historis dan industrinya.
  2. Pendapatan mereka di tahun 2020 itu 5x lipat lebih besar dari total kapitalisasi pasar sekarang.
  3. Total aset mereka 7x lebih besar dari kapitalisasi pasarnya.

Saya suka, sih, dengan saham ini. Banyak “harta karun” tersembunyi disini. Apalagi coba lihat gambar di bawah ini.

Gambar harga saham vs performa laba GJTL. Ada jarak yang jauh antara laba yang meningkat dari tahun 2017 sampai sekarang dengan harga saham yang cendorong stagnan. Pasti harga saham akan mengikuti kenaikan labanya suatu saat
Gambar 2. Harga saham vs Performa laba GJTL (Sumber: data pribadi)

Peter Lynch dalam bukunya yang berjudul ‘Beating the Street’, yang saya sudah review beberapa hari yang lalu, bilang kurang lebih seperti ini: “Terkadang tidak ada hubungan antara performa bisnis suatu perusahaan dengan pergerakan harga sahamnya. Tapi dalam jangka panjang, 100% harga saham ditentukan oleh performa bisnisnya.”

Kalau kita lihat gambar di atas, harga saham GJTL mengikuti performa labanya dari tahun 2012 – 2015. Lalu laba naik di tahun 2016, harga saham, pun, naik. Nah, dari tahun 2017 sampai sekarang, laba GJTL mulai naik tapi harga sahamnya tidak bergerak terlalu banyak. Jarak yang terlalu besar antara laba dan harga saham itu pasti akan tertutup. Kapan? Entah. Untuk ini kita harus sabar menunggu pastinya…hehehe.

Oke! Untuk sekarang, mungkin ini dulu yang bisa saya bahas mengenai GJTL. Jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya, sebelum berinvestasi. Bila ada pertanyaan, silahkan tulis komentar di bawah atau silahkan hubungi saya di sini.

Juga, kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi, atau menghibur, kalian, saya hanya ingin memberi tahu kalau iklan yang kalian lihat di blog ini akan membantu saya dalam terus menjalankan blog saya ini. Bila ada yang menarik dan kalian klik, saya berterima-kasih sebelumnya.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)