Tips Menabung Untuk Investasi

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com. Untuk post kali ini, saya ingin memberikan tips menabung untuk investasi.

Sebelum saya memutuskan untuk menjadi seorang value investor, saya sempat menjadi seorang trader selama beberapa tahun. Saya sempat cerita kalau waktu itu saya dimodali oleh ayah mertua saya untuk trading, saat dia tahu saya suka dunia saham. Waktu itu saya tahu kalau saya lebih suka investasi jangka panjang dibandingkan dengan trading, tapi karena modal dari mertua (dan mertua maunya saya trading saja, supaya tidak “nyangkut” kalau harga lagi turun) jadi saya trading.

Niatnya waktu itu profit dari trading nanti, setelah dibagi dengan mertua saya, sisanya saya simpan untuk dana investasi saya pribadi. Yaah, waktu itu performa trading saya naik dan turun tidak menentu, tapi stres naik terus (hehehe…), dan saya tidak disiplin. Jadi kalau lagi profit uangnya saya pakai untuk menutup kerugian sebelumnya, tidak bersisa untuk saya investasi.

Bonus? THR? Saya pakai juga untuk keperluan pribadi atau menutup kerugian investasi. Malu, kan, sama mertua (hehe…). Jadinya gali lubang tutup lubang saja, deh, selama beberapa tahun. Kalaupun ada uang lebih, saya pakai untuk dana darurat.

Tiba-tiba pandemi

Datanglah pandemi di awal tahun 2020 lalu. Mulailah kita semua working from home (WFH). Saya yang memang selalu terpikir untuk menjadi seorang value investor, saya sudah tahu kok cara menganalisa fundamental suatu saham[HE1]  dan saya sudah ada kemampuan kok untuk mengetahui harga wajar saham, hanya saja memang tidak pernah ada dana/tabungan untuk investasi, tiba-tiba ada sisa gaji lebih dari uang transportasi/bensin yang sebelum WFH pasti terpakai habis.

Dari saat itu saya bertekad untuk menyisihkan lebih banyak lagi dana untuk investasi jangka panjang saya. Di post ini saya ingin memberikan 5 tips menabung untuk investasi yang bisa kita gunakan. Semoga berguna bagi kalian yang dihadapi masalah yang sama: mau investasi tapi dananya dari mana?

Nah, sebelum kita mulai membahas tips menabung untuk investasi, seperti biasa saya mau bilang kalau tulisan ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Lalu, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Tips menabung untuk investasi

1) Sisihkan gaji/penghasilan kamu…dan miliki target

Ini yang saya lakukan akhirnya. Saya biasa menghabiskan IDR 1.5 – 2 juta per bulan untuk transportasi ke kantor, yang karena WFH jadi “uang nganggur”. Awalnya setiap bulan saya “nabung saham” dengan uang tersebut, tapi saya berpikir kalau saya bisa kumpulin dulu setiap beberapa bulan baru setelah itu saya berikan saham, hasilnya akan lebih signifikan.

Jadi saya mulai memiliki target untuk dana investasi dari gaji/penghasilan saya. Saya set target bila saya bisa menabung IDR 1.5 – 2 juta per bulan, waktu itu saya mulai berinvestasi di bulan Mei 2020, sampai akhir tahun saya bisa ada dana investasi total IDR 10.5 – 14 juta.

Ya sudah, apapun yang terjadi, saya sisihkan dana untuk berinvestasi saham. Target saya membuat saya lebih semangat untuk menghemat-hemat pengeluaran bulanan saya. Alhamdulillah, akhir tahun 2020, saya memiliki dana investasi jauh di atas yang saya sebutkan di atas. Karena angka IDR 10.5 – 14 juta itu belum termasuk THR dan bonus saya dari kantor.

“Tapi, kan, kita harus kasih ke orang tua/istri/anak/pacar/angpao buat imlek atau lebaran”. Betul, tapi kasih secukupnya saja. Anggap THR/bonus saya 10 juta, yang saya sisihkan untuk semua hal-hal tersebut, hanya 30-40% maksimal, sisanya untuk saya investasikan. Karena saya berpikir kalau saya bisa menghasilkan multibagger (istilah dari investor legendaris Peter Lynch yang berarti “imbal hasil berkali-kali lipat”), orang-orang yang saya cintai bisa menikmati hasilnya berkali-kali lipa juga di kemudian hari.

“Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Kata pepatah

Itu merupakan kata pepatah Indonesia yang paling saya suka.

2) Miliki usaha sampingan / penghasilan tambahan

Gaji selalu habis untuk kebutuhan sehari-hari? Tidak masalah, kamu bisa lakukan saran yang satu ini.

Saran ini amat sangat cocok bagi kalian yang memiliki jiwa entrepreneurship (“kewirausahaan”). Kalau gaji tidak cukup, ya mulai usaha sampingan saja yang bisa dilakukan di luar jam kerja. Kamu punya keahlian apa? Asah keahlian tersebut supaya bisa kamu jual ke orang lain yang ingin membelinya.

Kamu suka apa? Masak? Mungkin bisa mulai buat katering kecil-kecilan setiap akhir pekan? Anggap kamu bisa untung IDR 500 ribu / akhir pekan dari katering kamu. Sebulan kamu bisa menghasilkan IDR 2 juta.

Jangan pikir kalau angka itu kecil, tapi berpikirnya “ini adalah IDR 2 juta yang tidak saya miliki bila saya tidak menjalani usaha katering ini. IDR 2 juta ekstra yang bisa saya gunakan untuk berinvestasi”. IDR 2 juta ekstra per bulan itu berarti IDR 24 juta per tahun. Tidak sedikit, kan, kalau dikumpulkan?

Ide-ide usaha sampingan / mencari penghasilan tambahan (side hustle)

  • Jualan kue dari Instagram/TikTok
  • Beli barang-barang diskon besar di Transmart lalu kamu jual lagi di Tokopedia/Shopee di harga sedikit lebih mahal
  • Jadi agen asuransi
  • Jadi agen properti
  • Jago main gitar? Coba beri kursus ke anak-anak lewat Zoom atau Google Meet
  • Jago matematika? Mungkin bisa jadi guru di RuangGuru
  • Jago matematika dan Bahasa Inggris? Coba, deh, buat konten kursus online untuk Udemy
  • Jago fotografi? Kasih kursus lewat TikTok, jual foto-foto kamu ke situs-situs stock images, atau buat konten di Instagram/TikTok yang nantinya kamu monetisasi
  • Kamu orang yang pede dan jago bicara? Buat konten YouTube!
  • Kamu suka menulis seperti saya? Buat blog atau cari kerjaan-kerjaan menulis freelance secara online
  • Cari pekerjaan sampingan di Freelance.com
  • Kamu jago dalam mengelola keuangan keluarga kamu? Coba buat konten cara mengelola budget rumah tangga di Instagram/TikTok, lalu buat seminar-seminar online
  • Suka fitnes dan punya perus six-pack? Jadi Personal Trainer.
  • Kamu perempuan cantik yang suka berfoto seksi? Buat konten di OnlyFans! (hahaha!)
  • Jadi driver Gojek/Grab. Malu? Lebih malu lagi kalau sudah tua bangka tapi masih miskin, jadinya nyusahin anak-anak kamu yang sudah berkeluarga. Kamu jadi driver Gojek/Grab di luar jam kerja, dapat penghasilan IDR 1.5 – 2 juta ekstra per bulan, itu berarti IDR 18 – 24 juta ekstra per tahun. Dana investasi yang bisa kamu pakai untuk memberikan orang-orang yang kamu cintai hal-hal terbaik di kemudian hari
  • Isi survey-survey online berbayar
  • Jago akuntansi? Ahli perpajakan? Buat jasa penghitungan pajak
  • Jadi dropshipper di Tokopedia
  • Jago desain grafis? Jualan t-shirt dengan gambar-gambar meme yang lagi hits saja!
  • Bisa buat situs? Coba jual jasa pembuatan situs
  • Bantu teman-teman kamu yang mau jual mobil/properti/harga diri (hehehe…) dan kamu ambil komisi dari sana
  • Jual botol-botol / kaleng-kaleng bekas kamu ke perusahaan daur ulang

Dan masih banyak lagi!

3) Jual barang-barang kamu yang tidak dipakai

Kamu tidak punya jiwa kewirausahaan? Tidak masalah, kok.

Bila kamu punya banyak barang-barang di kamar/rumah kamu yang tidak terpakai dan hanya menjadi “sampah”? Coba deh lihat online, ada tidak yang menjual barang-barang tersebut. Kalau ada, berarti memang ada orang-orang yang cari. Kalau tidak ada, pun, kamu tetap coba jual saja, siapa tahu memang banyak yang cari tapi belum ada yang jual.

Smartphone lama masih ada? Jual saja. Laptop lama tidak dipakai? Jual saja. Tas branded yang tidak dipakai selama pandemi ini? Jual. Sepatu branded tidak terpakai? Jual.

Lalu, bila kamu mau mencoba memiliki sedikit saja jiwa wirausaha, kita bisa sambung dengan saran nomor 2. Jadi kamu bisa minta teman-teman kamu titipkan barang-barang bekas mereka supaya kamu jual dan kamu bisa ambil komisi dari sana.

4) Cari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih besar

Atau kamu seperti saya? Tidak memiliki jiwa wirausaha, tidak jago matematika, dan tidak bisa main musik? Tapi kamu punya pekerjaan yang ada jenjang karirnya?

Kalau demikian, tapi kantor kamu yang sekarang tidak bisa menaikan gaji kamu, kamu pindah saja, cari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar. Saya dulu pernah jadi headhunter, atau konsultan rekrutmen, dan saya selalu menasehati kandidat-kandidat saya kalau pindah mereka bisa minta kenaikan gaji 20 – 30% ke perusahaan baru. Bahkan beberapa kandidat-kandidat yang pengalaman dalam bidangnya banyak bisa minta sampai 50% (saya sendiri pernah seperti ini). Tapi itu hanya untuk kasus-kasus tertentu saja, ya.

Hanya saja, pastikan saat kamu pindah kerja dengan kenaikan gaji lebih besar, gaya hidup lama kamu jangan berubah! Dengan biaya hidup kamu sama tapi gaji lebih besar, sisa gaji kamu bisa dipakai untuk investasi. Gaji lebih besar artinya THR lebih besar dan bonus lebih besar juga, loh.

5) Resign

Nah, saran terakhir ini mungkin butuh perencanaan yang lebih matang dan bisa digabung dengan saran nomor 4 di atas. Pertanyaannya mungkin “kenapa memang dengan resign?”

Jawabannya: BPJS Ketenagakerjaan Jaminan Hari Tua (JHT) kita. Itu, kan, merupakan iuran Jaminan Hari Tua wajib yang dipotong 5.7% (kontribusi pekerja dan perusahaan) dari gaji kita setiap bulannya. Karena wajib jadinya kita lupa kita punya “uang nganggur” tersebut, kan?

Sebenarnya kalau kita masih bekerja, kita hanya bisa menarik 10% atau 30% dari dana JHT kita, itu pun kalau sudah bekerja selama 10 tahun. Tapi kita juga bisa menarik 100% dari dana JHT tersebut bila kita kena PHK / resign dari kantor yang sekarang, meski itu hanya bisa diambil 1 bulan setelah status kita sedang tidak bekerja di suatu perusahaan.

Coba bayangkan, anggap gaji saya IDR 10 juta per bulan, potongan 5.7% itu berarti IDR 570 ribu per bulan atau IDR 6.8 juta per tahun. Bila kita sudah bekerja selama 3 tahun, berarti kita ada IDR 20.5 juta. Bila sudah bekerja 5 tahun, berarti ada IDR 34 juta di dana JHT kita. Itu jumlah yang banyak dan bisa kita pakai untuk berinvestasi! Dan itu semua belum termasuk potongan JHT dari THR / bonus / kenaikan gaji dalam 3 – 5 tahun terakhir.

Kalau dibiarkan di JHT, dana kita memang bisa naik sekitar 8 – 10% per tahunnya, lebih banyak dari deposito. Tapi tidak lebih banyak daripada kita berinvestasi sendiri di saham. Coba cek post Saham Rekomendasi 2021 saya dari beberapa hari lalu, para rekomendasi saya bisa naik total 28.8%, jauh lebih banyak daripada saya biarkan dana JHT di BPJS.

Apakah BPJS Ketenagakerjaan JHT tidak penting? Amat sangat penting. Apalagi untuk mereka yang tidak tertarik berinvestasi di dunia saham. Tapi bagi pembaca blog Stoxets.com? Untuk apa baca blog saya bila tidak tertarik dengan berinvestasi sendiri di dunia saham untuk jangka panjang, kan?

Penutup dari post “Tips Menabung Untuk Investasi”

Itulah sedikit dari tips menabung untuk investasi yang ingin saya bagikan kali ini. Intinya adalah kita harus bisa “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Pilih tips yang kalian cocok, atau lakukan semuanya, dana ekstra tersebut bisa kalian jadikan dana investasi.

Perihal dana dari JHT, tambahan catatan saja, harap rencanakan dengan matang, ya. Karena ada jeda antara kalian resign, kalian bisa mulai proses pencairan dana JHT tersebut, sampai dana JHT tersebut masuk ke rekening kalian. Mungkin dari proses pencairan dana sampai masuk ke rekening bisa makan waktu satu bulan tambahan. Jadi total dua bulan.

Oke, mungkin ini dulu yang bisa saya bagikan mengenai tips menabung untuk investasi ini. Kalian ada tips lain yang bisa dibagikan? Tolong komentar di bawah, ya! Itu akan berguna bagi pembaca-pembaca yang lain.

Lalu, jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya. Bila ada pertanyaan, silahkan hubungi saya di sini atau tinggalkan komentar di bawah juga. Kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi atau menghibur kalian, saya hanya ingin bilang kalau kalian lihat iklan menarik yang ada di blog ini dan kalian klik, saya berterima kasih sebelumnya.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)