Tips Investasi Saham Jangka Panjang

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com. Untuk post kali ini, saya ingin memberikan tips investasi saham jangka panjang.

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan maksud dari “tips investasi saham jangka panjang” di sini bukan berarti saya akan memberikan tips saham-saham apa yang bagus untuk kita investasikan dalam jangka panjang (kalau ini, sih, bisa lihat saja di sini), tapi lebih ke bagaimana kita bisa tahan untuk tidak cepat-cepat menjual saham-saham kita saat harganya “baru” naik, misal, 10 – 15%. Karena, kan, memang dari awal kita mengincar saham-saham yang bisa menjadi multi baggers” (“naik berkali-kali lipat” maksudnya). Kalau baru naik 10 – 15% kita langsung jual, mah, trading saja deh.

Tapi, justru itu, kan, yang susah? Meski baru naik 10 – 15% tapi itu sudah menjadi “paper profit” (“keuntungan di atas kertas”) yang bisa di realisasikan segera. “Kalau menunggu sampai profit 100 – 200% harus menunggu berapa tahun??” Iya, kan? Pasti tangan kita “gatal”, kesabaran kita diuji di sini.

Itu yang mau saya bahas. Meski mungkin ini lebih ke tips berdasarkan pengalaman saya sendiri, ya.

Nah, tapi sebelum saya membagi tips investasi saham jangka panjang, seperti biasa saya mau bilang kalau tulisan ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Lalu, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Tips investasi saham jangka panjang

Kembali ke contoh di atas, saya sendiri sudah tiga kali mendapatkan “two baggers” (“naik 2x lipat), terakhir di ITMG (Indo Tambangraya Megah Tbk.). Tapi ITMG tetap tidak saya jual. Kenapa? Karena berdasarkan analisa saya sendiri, harganya masih bisa naik lagi. Meski harganya, per post ini ditulis, sudah turun 33% dari titik tertingginya di tahun 2021 ini, saya tahu bisnisnya masih bagus.

Nah, tapi hal-hal demikian akan membuat kita tergoda untuk ingin menjual saham kita, kan? Berikut tips investasi saham jangka panjang berdasarkan pengalaman saya:

1) Jangan melihat grafik harga saham sering-sering…

Soal ini bicara memang lebih mudah dari dilakukan. Saya sendiri sering lihat grafik harga saham, bisa setiap hari mungkin (hehehe…). Karena meski ini bukan kebiasaan yang bagus untuk dilakukan seorang investor jangka panjang, hal ini sering saya lakukan. Kenapa? Yah, dengan setiap broker memiliki aplikasi yang mudah diakses dari ponsel dan tampilan yang mengundang untuk kita klik, hal ini susah untuk tidak dilakukan.

Tapi sebagai long term investors, hal ini tidak baik. Karena kita bisa “terpancing” untuk melakukan trading. Naik 15% dalam sehari? “Wah, setelah tidak kemana-mana selama 6 bulan, tiba-tiba naik 15% nih! Jual, ah”. Atau turun 20% dalam seminggu? “Waduh, takut turun terus lalu jadi saham gocap, nih! Cut loss saja, ah!”.

Nah, pikiran-pikiran ini tidak akan terlintas kalau kita tidak sering melihat harga-harga portfolio saham kita, kan? Kalau bisa bahkan kita cukup cek portfolio kita setiap 3 – 4 bulan sekali saat laporan keuangan perusahaannya keluar.

2) …Kalaupun sering lihat grafik harga saham, tidak ada yang harus dilakukan

Tapi kalau kalian seperti saya, yang orang Perancis bilang “ndablek” (“bandel” atau “susah dibilangin”), yang setiap hari cek harga saham di portfolionya, bagaimana? Saran saya, batasi saja. Saya sendiri “hanya” cek 2 – 3x sehari (sudah seperti minum obat ya…hehehe), yaitu saat pasar buka, saat akhir sesi pertama / saat sesi kedua dimulai, dan setelah pasar tutup. Itu saja sudah kebanyakan!

Meski demikian, yang penting, saya tidak melakukan apapun. Karena kalau setiap saya lihat laporan keungan atau tahunan perusahaan-perusahaan tersebut dan tidak ada yang berubah, kenapa saya harus takut kalau harganya sedang turun, kan?

Tapi, kalau setiap kita melihat nilai portfolio kita dan tangan kita “gatal” ingin menjual, lebih baik:

  • Kita uninstall aplikasi broker di ponsel kita, atau
  • Kita cek harga saham saat pasar sudah tutup

3) Coba cari aktifitas lain

Dulu malah saya lebih sering lagi cek harga saham. Bisa setiap 30 menit sekali. Karena itulah saya mencari aktifitas-aktifitas lain. Karena hal tersebut, waktu itu, cukup menggangu konsentrasi saya dalam bekerja. Beberapa hal yang saya lakukan, dan kita juga bisa lakukan adalah:

  • Membaca buku – Ya, mending kita baca buku-buku mengenai investasi atau tokoh-tokoh investasi dunia daripada melihat harga saham setiap setengah jam. Kebetulan saya suka membaca, jadi ini sering saya lakukan.
  • Fokus di kerjaan kantor – Mending kita fokus dengan kerjaan di kantor, jadi pikiran kita tidak di pasar saham terus. Toh, untuk sekarang, kita masih digaji kantor, kan? Siapa tahu kalau kita makin fokus dengan kerjaan di kantor, gaji kita bisa naik, dan kita bisa punya dana lebih banyak untuk investasi.
  • Cari penghasilan sampingan – Kita sudah baca buku, sudah bisa fokus juga dengan kerjaan kantor, tapi masih sering cek-cek harga saham setiap ada 5 menit yang kosong? Coba fokus di membuat penghasilan sampingan (saya pernah bahas di sini). Tangan tidak “gatal” cek aplikasi broker dan kita bisa ada dana lebih untuk investasi.
  • Riset perusahaan-perusahaan lain yang tidak ada di portfolio kita – Nah, ini juga yang saya lakukan dengan membuat blog Stoxets.com ini. Waktu saya cukup terpakai banyak dengan mengerjakan blog ini (meski pendapatan saya dari sini masih kecil sekali, bahkan belum bisa untuk menutup biaya saya menjalankan blog ini…hehehe, curhat). Saya riset, analisa, saya tulis artiketmengenai perusahaan tersebut, lalu saya post. Cukup makan waktu.
  • Habiskan waktu bersama keluarga – Kebetulan saya WFH (working from home) dan anak saya masih batita (bayi tiga tahun), jadi kalau saya main sama dia cukup mengalihkan pikiran saya dari pasar saham.
Gambar para pekerja kantoran yang sedang berdiskusi untuk menggambarkan lebih baik kita fokus dalam kerjaan kantor saja daripada melihat grafik harga saham setiap saat. Salah satu tips investasi saham jangka panjang berdasarkan pengalaman saya.
Gambar 1. Mending fokus di kerjaan kantor saja, siapa tahu cepat naik gaji (Sumber)

4) Jangan sering-sering lihat berita

Ini juga bahaya. Setiap hari kita di”bombardir” dengan berita-berita mengenai harga saham A jatuh atau harga saham B naik ARA (auto reject atas – naik 20 – 35% dalam sehari). Hal-hal ini membuat kita ingin membuka aplikasi broker kita, kan?

Dan mungkin kita sekarang dapat sumber berita kita dari media sosial, ini bisa lebih bahaya lagi dengan gambar-gambar yang menarik dan judul-judul yang menarik perhatian kita. Lebih baik scroll kebawah saja langsung, deh.

Meski demikian, bila kalian seperti saya yang sering akses media sosial, kalian bisa gunakan ini untuk melakukan analisa/riset atas perusahaan-perusahaan tersebut lebih lanjut. Siapa tahu memang ada perusahaan yang sahamnya sedang undervalued (sedang di bawah harga wajarnya).

5) Jangan sering-sering mendengar para professionals, dan apalagi, influencers

Ini mungkin lebih bahaya lagi. Para profesional (analis-analis dari sekuritas, reksa dana, ataupun perusahaan-perusahaan investasi), kan, memiliki target. Ya, insentif mereka untuk “mengiklankan”, atau merekomendasikan, saham-saham yang sudah mereka beli supaya para investor ritel ikut beli, lalu saat harganya sudah tinggi, mereka bisa jual. Begitu terus.

Para influencers / artis, juga sering melakukan hal seperti ini, kan? Ingat Raffi Ahmad dan Ari Lasso meng-endorse saham MCAS (M Cash Integrasi Tbk.)? “Ada yg lagi hot banget” katanya?? Saham atau tahu bulat?? Atas dasar apa rekomendasinya?? Bahaya kalau kita terpengaruh untuk menjual saham perusahaan bagus dan malah membeli saham-saham “pom-pom” (saham-saham yang di-endorse artis/influencers supaya harganya naik lalu mereka sendiri “cabut” dari sana) seperti ini.

Ingat, manusia punya kepentingannya masing-masing, termasuk saya. Jadi, sama dengan di atas, gunakan rekomendasi-rekomendasi / ”pom-pom” yang kalian dengar untuk kalian riset sendiri. Itu yang penting.

Penutup dari post “Tips Investasi Saham Jangka Panjang”

Oke, itulah sedikit dari tips investasi saham jangka panjang yang ingin saya bagikan. Intinya, alihkan pikiran kita dari melihat portfolio setiap dari dan hati-hati dengan saham-saham rekomendasi / “pom-pom”.

Semoga kita semua bisa terhindar dari “pom-pom” yang terkutuk…aamiiin.

Nah, sekarang, kalian ada tips lain yang bisa dibagikan? Tolong komentar di bawah, ya! Itu akan berguna bagi pembaca-pembaca yang lain.

Lalu, jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya. Bila ada pertanyaan, silahkan hubungi saya di sini atau tinggalkan komentar juga di bawah juga. Kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi atau menghibur kalian, saya hanya ingin bilang kalau kalian lihat iklan menarik yang ada di blog ini dan kalian klik, saya berterima kasih sebelumnya.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)