ETF vs Reksa Dana vs Saham

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com. Untuk post kali ini, saya ingin membahas mengenai ETF vs Reksa Dana vs Saham. Apa perbedaan mereka, apa kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan mana yang paling unggul.

Post ini juga merupakan Seri Investor Pemula dalam blog ini, seperti saat saya membahas perbedaan trading dan investing, investasi jangka panjang vs jangka pendek, ataupun pendapat saya mengenai saham IPO (initial public offering / penawaran saham perdana), dan lain-lain yang berhubungan dengan tips maupun cara saya menganalisa suatu saham.

Bagi kalian yang sudah lebih berpengalaman dalam dunia saham mungkin lebih tertarik untuk cek analisa saya atas saham IRRA (Itama Ranoraya Tbk.) dan CMRY (Cisarua Mountain Dairy Tbk.) yang baru-baru ini saya post, atau bisa juga cek Seri Saham LQ45 blog ini.

Tapi, seperti biasa, saya mau bilang kalau tulisan ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Dan terakhir, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Mari kita bahas ETF vs reksa dana vs saham!

ETF vs reksa dana vs saham

Asumsi saya, kalau kalian membaca blog Stoxets.com ini adalah kalian sudah tahu apa itu saham, kan? (Intinya, saham adalah bukti sebagian kepemilikan atas suatu perusahaan yang bisa diperjualbelikan secara bebas di dalam bursa efek, bila perusahaan tersebut sudah melakukan proses penawaran saham perdana.)

Nah, sekarang saya coba jelaskan dulu apa itu ETF dan reksa dana. Baiknya kita mulai dari reksa dana terlebih dahulu.

Apa itu reksa dana?

Dikutip dari situs Bursa Efek Indonesia (BEI), reksa dana artinya “wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi”. Saya tambahkan: “…dengan skema dan tujuan investasi tertentu.” Secara bahasa, kata “reksa” sendiri berarti “penjaga”. “Reksa dana”, ya, berarti “penjaga dana”.

Manajer Investasi (MI) sendiri adalah pihak atau perusahaan yang berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menarik dana dari nasabah untuk mereka kelola, investasikan (melalui aktifitas jual dan beli aset-aset tertentu), dan membuat laporan investasi untuk para nasabah yang uangnya dikelola MI tersebut.

Proses pembuatan produk reksa dana

Saya beri contoh sederhana atas proses sebuah MI dalam membuat dan mengelola suatu produk reksa dana:

  • PT ABC telah memiliki izin dari OJK untuk menjadi sebuah MI. Mereka sudah membuat suatu perencanaan investasi (“investment plan”) untuk produk reksa dana yang mau mereka luncurkan. Isi dari perencanaan investasi ini adalah objektif dari investasi yang akan mereka lakukan dan bagaimana mereka ingin mencapai objektif tersebut.
  • Anggap saja mereka menamakan produk reksa dananya “ABC LQ45 Equity Fund”, yaitu produk reksa dana yang isinya mengikuti saham-saham yang ada di daftar indeks LQ45 BEI. Karena ABC percaya asal ekonomi Indonesia tumbuh terus, maka saham-saham di indeks LQ45 di BEI juga akan tumbuh terus. Karena memang dalam 20 tahun terakhir, indeks LQ45 BEI sudah naik 1,048%. Atau 52% per tahun!
Gambar indeks LQ45 yang naik 1,048% dalam 20 tahun terakhir. ETF vs reksa dana vs saham, apapun itu tujuan kita adalah mengalahkan atau menyamakan dengan performa indeks.
Gambar 1. Dalam 20 tahun terakhir, indeks LQ45 sudah naik 1,048%
  • Untuk meluncurkan produk ini, mereka mau mulai dengan dana IDR 10 Miliar terlebih dahulu. Total dana yang ABC kelola untuk produk ini namanya AUM (“Asset Under Management”, atau “aset yang dikelola”). Dan ABC akan mengenakan biaya ke para nasabah untuk mengelola dana AUM tersebut.
  • ABC akan menjual produk ini melalui metode per unit reksa dana. Jadi, AUM sebesar IDR 10 Miliar untuk produk ABC LQ45 Equity Fund itu, anggap saja supaya “murah”, ABC membaginya menjadi 100 juta unit. Jadi harga per unit produk reksa dana ini adalah IDR 10 Miliar dibagi 100 juta unit, atau IDR 100 per unit. Harga per unit ini dinamakan NAV (“Net Asset Value”). Tapi biasanya ada pembelian dan penjualan NAV minimum (IDR 100,000 misalnya).
  • Pergerakan harga NAV ini, lah, yang para nasabah ABC pantau setiap harinya. Tapi, berbeda dari pergerakan harga saham yang, selama jam BEI buka, naik turun setiap saat. Pergerakan harga NAV hanya dihitung setelah jam BEI tutup. Jadi harganya hanya berubah 1x setiap 1 hari kerja.

Keuntungan dan kerugian membeli reksa dana?

Keuntungan reksa dana

  • Diversifikasi
    Dari contoh di atas, pusing, kan, kalau kita harus membeli dan memantau 45 saham sekaligus? Apalagi produk-produk reksa dana yang mencampur saham dengan emas / deposito / obligasi / dll. Reksa dana adalah cara termudah untuk kita bisa diversifikasi kepemilikan aset-aset kita.
  • Efisiensi waktu
    Kalau kita menganalisa 1 saham sehari, berarti kita membutuhkan 45 hari untuk menyelesaikan semua analisa tersebut! Kalau kita pekerja kantoran, seperti saya, apa ada waktu?
  • Dividen yang diinvestasikan ulang
    Bila di dalam produk reksa dana yang kita beli ada perusahaan yang memberikan dividen, maka dividennya bisa otomatis dibelikan NAV tambahan. Kalau kita membeli saham, kan, dividennya masuk ke rekening dana nasabah kita dulu baru kita bisa menggunakan uangnya untuk membeli saham lagi.

Kerugian reksa dana

  • Performa produk reksa dana tergantung dari seberapa bagus pengelola dananya
    Iya, kalau pengelola dananya jago (Gambar 2 dan 3), kita untung. Tapi kalau bodoh (Gambar 4 dan 5)? Buat apa kita kasih uang kita untuk dikelola orang bodoh, yang mengikuti performa indeks saja tidak mampu dan berani minta biaya pengelolaan lagi(!)?
Gambar contoh produk reksa dana indeks LQ45 naik 6.94% dibanding indeks LQ45 sebenarnya yang turun -0.9% dari Oktober 2018. ETF vs reksa dana vs saham, apapun itu tujuan kita adalah mengalahkan atau menyamakan dengan performa indeks.
Gambar 2. Naik 6.94% dari Oktober 2018…
Gambar indeks LQ45 sebenarnya yang turun -0.9% dibanding contoh produk reksa dana indeks LQ45 yang naik 6.94% dari Oktober 2018. ETF vs reksa dana vs saham, apapun itu tujuan kita adalah mengalahkan atau menyamakan dengan performa indeks.
Gambar 3. …dibanding indeks LQ45 yang turun -0.9% dari Oktober 2018.
Gambar contoh produk reksa dana indeks IDX30 yang turun -14.65% dibanding indeks IDX30 sebenarnya yang hanya turun -10.8% dari Desember 2017. Ini contoh produk reksa dana yang dikelola orang tidak becus.
Gambar 4. Turun -14.65% dari Desember 2017…
Gambar indeks IDX30 sebenarnya yang hanya turun -10.8% dibandikan salah satu produk reksa dana indeks IDX30 yang turun -14.65% dari Desember 2017.
Gambar 5. …dibanding indeks IDX30 yang hanya turun -10.8% dari Desember 2017.
  • Risiko likuiditas
    Jadi, MI harus menyediakan sebagian AUM mereka dalam bentuk uang kas. Kalau ada nasabah yang ingin mencairkan NAV mereka, si MI akan langsung transfer. Tapi kalau MI tidak punya dana kas cukup? Ya, nasabah harus menunggu sampai si MI ada dananya. Ingat kasus Jiwasraya? Kurangnya likuiditas adalah pertanda MI yang bermasalah.
  • Tidak fleksibel
    Seperti saya sudah bilang di atas, perhitungan harga NAV itu setelah tutupnya jam kerja BEI, dengan waktu pembelian sebelum jam 13:00 setiap harinya. Jadi harga saat kita beli dan harga yang kita dapat bisa berbeda jauh.

Apa itu ETF

Nah, dikutip dari situs BEI, ETF (“Exchange Traded Fund”) adalah: “reksa Dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di bursa efek. ETF merupakan penggabungan antara unsur reksa dana dalam hal pengelolaan dana dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual maupun beli.”

Kalau sama seperti reksa dana, untuk apa ada ETF? Mungkin kita langsung bahas keuntungan dan kerugian membeli ETF di bawah:

Keuntungan dan kerugian membeli ETF?

Keuntungan ETF

  • Lebih fleksibel
    Dapat dibeli dan dijual kapanpun selama jam perdagangan BEI, seperti layaknya saham. Berarti kita bisa lebih cepat merealisasikan keuntungan kita.
  • Lebih likuid
    Tidak seperti apa reksa dana, ETF dapatt diperdagangkan di pasar primer dan sekunder. Antara broker dengan investor (pasar primer) ataupun satu investor ke investor lainnya (pasar sekunder). Jadi likuiditas ETF mengikuti likuiditas pasar, bukan likuiditas MI.
  • Lebih transparan
    Dalam reksa dana, kita hanya bisa melihat, dalam tiap produk, 10 kepemilikan saham terbesar. Kalau ETF, kita bisa melihat semua isi portfolio dengan bobot persentasenya masing-masing.
  • Lebih murah
    ETF hanya memberikan kita biaya transaksi broker, sedangkan reksa dana ada biaya pengelolaan dana (“management fee”) sebesar 1 – 4%!
  • Performa lebih terukur
    Iya, karena ETF menggunakan indeks saham sebagai landasannya, jadi performanya bisa lebih terukur.
Gambar indeks IDX30 sebenarnya yang naik 24.8% dibanding salah satu produk ETF indeks IDX30 yang naik 24.1% dari Juni 2020. ETF vs reksa dana vs saham, apapun itu tujuan kita adalah mengalahkan atau menyamakan dengan performa indeks.
Gambar 6. Indeks IDX30 naik 24.8% dari Juni 2020
Gambar contoh salah satu produk ETF indeks IDX30 yang naik 24.1% dibanding indeks IDX30 sebenarnya yang naik 24.8% dari Juni 2020. ETF vs reksa dana vs saham, apapun itu tujuan kita adalah mengalahkan atau menyamakan dengan performa indeks.
Gambar 7. Salah satu produk ETF IDX30 naik 24.1% dari Juni 2020

Kerugian ETF

  • Hanya berlandaskan saham
    ETF hanya berlandaskan aset berbentuk saham, sedangkan reksa dana bisa ada saham, obligasi, emas, pasar uang, dan deposito.
  • Masih terbatas
    Saat post ini ditulis, baru ada 50 produk ETF di Indonesia. Dibandingkan dengan 2,473 produk reksa dana yang terdaftar OJK.
  • Lebih fluktuatif
    Iya, karena ETF lebih bebas diperjualbelikan, jadi harganya lebih fluktuatif layaknya saham.
  • Dividen tidak otomatis diinvestasikan ulang
    Sama seperti saham, dividen akan masuk ke rekening dana nasabah terlebih dahulu. Baru bisa kalian belikan saham atau ETF lain.

Penutup dari post “ETF vs Reksa Dana vs Saham”

Nah, kalau kita lihat di atas, kalau kita bahas ETF vs reksa dana saja, semua kerugian reksa dana ada di keuntungan ETF. Dan kerugian ETF, pun, tidak separah kerugian yang ada di reksa dana.

Bahkan hasil riset saya dalam menulis post “ETF vs reksa dana vs saham” ini membuat saya ingin menjual semua reksa dana saya dan membeli ETF saja. Tapi mungkin saya harus melakukan riset lebih dalam produk-produk ETF apa yang ingin saya beli untuk menggantikan produk-produk reksa dana yang saya miliki.

Oke, jadi ETF vs reksa dana, menurut saya lebih bagus ETF.

Tapi, kan, judul post ini “ETF vs reksa dana vs saham”, sekarang kalau ETF vs saham? Kalau hal ini, menurut saya tergantung dengan tujuan investasi kalian. Bila kalian ingin diversifikasi portfolio saham dengan membeli indeks, tapi tidak mau yang kurang fleksibel seperti reksa dana, beli saja ETF. Performa investasi kalian kurang lebih hanya akan seperti indeks. Tapi, kalau kalian memilih saham, tidak mungkin kalian akan sanggup untuk secara rutin menganalisa 45 saham sekaligus.

Meski demikian, bila kalian ingin bisa mengalahkan indeks IHSG, to achieve alpha, seperti saya bisa mengalahkan indeks IHSG sebesar 221%, saham adalah satu-satunya cara. Dengan catatan, kalian harus mau melakukan riset dan analisa kalian sendiri, ya!

Oke, dari saya itu saja untuk topik ETF vs reksa dana vs saham ini. Kalian ada pendapat? Atau ada yang kurang jelas? Silahkan komentar di bawah, ya! Semoga post ini berguna bagi kalian yang masih pemula. Mari kita sama-sama belajar dan berusaha untuk bisa kaya raya supaya bisa membantu orang banyak…aamiiin!

Bila ada pertanyaan, bisa hubungi saya di sini atau bisa juga tinggalkan komentar di bawah. Kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi atau menghibur kalian, saya hanya ingin bilang kalau kalian lihat iklan menarik yang ada di blog ini dan kalian klik, saya berterima kasih sebelumnya. Itu akan membantu saya dalam terus menjalankan blog ini.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)