CFIN: Valuasi Perusahaan Pembiayaan “Koleksi” Lo Kheng Hong

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com dan kali ini saya ingin membahas analisa fundamental saham CFIN (PT Clipan Finance Indonesia Tbk.) dan juga pendapat saya mengenainya.

Sama seperti PTRO (Petrosea Tbk.), BMTR (Global Mediacom Tbk.) dan GJTL (Gajah Tunggal Tbk.), dan MBSS (Mitrabahtera Segara Sejati Tbk.) yang sudah kita bahas beberapa waktu lalu, CFIN juga merupakan salah satu saham “koleksi” pak Lo Kheng Hong (LKH), seorang investor legendaris Indonesia.

Nah, tapi seperti biasa, sebelum saya lanjutkan ke analisa saya, perlu saya jelaskan bahwa analisa saham ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila kalian belum pernah baca disclaimer blog ini, silahkan klik di sini.

Lalu, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Analisa saham CFIN

CFIN (PT Clipan Finance Indonesia Tbk.) adalah perusahaan pembiayaan (“financing”) Indonesia yang pertama berdiri di tahun 1982. CFIN menjadi perusahaan publik di tahun 1990. 51.48% saham perusahaan ini dimiliki oleh PT. Bank Pan Indonesia Tbk (Bank Panin, PNBN), 8,23% dimiliki oleh BBH Luxembourg (sebuah perusahaan perbankan eksklusif, “private banking”, di Luksemburg), pak Lo Kheng Hong memiliki 5.16%, dan sisanya, 35.12%, dimiliki oleh masyarakat.

Secara industri, perusahaan ini masuk ke Financing Service.

Lalu dari mana saja pendapatan CFIN berasal? Mari kita lihat:

Bisnis CFIN

CFIN memiliki beberapa sumber pendapatan, berdasarkan Laporan Tahunan CFIN tahun 2020:

  • Sewa pembiayaan(“finance lease”)

Ini contohnya saat CFIN membiayai penyewaan alat berat ke perusahaan konstruksi. Kontribusi bisnis ini sebesar 3.11%.

  • Pembiayaan konsumen (“consumer financing”)

Ini bisnis pembiayaan kredit kendaraan bermotor baru dan bekas, KPR, dan lain-lain.

Ini bisnis terbesar CFIN, di 76.32% dari pendapatan mereka.

  • Anjak piutang (“factoring”)

Ini bisnis dimana CFIN menjual surat-surat piutang mereka, di harga lebih rendah, ke pihak ketiga untuk bisa mendapatkan dana tunai cepat.

5.11% bisnis mereka dari sini.

  • Bunga

Pendapatan mereka dari bunga bank, atas uang yang mereka tempatkan di sana, sebesar 1.38%

  • Keuntungan kurs & sewa operasi (“operating lease”) kendaraan dan properti investasi

Kontribusi ini kecil sekali di 0.33%

  • Pendapatan lain-lain

Ini mencakup pendapatan mereka dari denda keterlambatan membayar, denda penghentian kontrak, biaya adminstrasi, dan sebagainya. Dari sini CFIN mendapatkan 13.74% dari total pendapatan mereka.

Nah, sekarang mari kita bahas hasil dari tahap Research untuk CFIN di bawah ini.

Research – Valuasi PER dan PBV

Saya menggunakan laporan tahunan CFIN dari 2011 – Kuartal 2 Tahun 2021 (yang disetahunkan). Berikut performa bisnis mereka selama 10 – 11 tahun ke belakang:

  1. Revenue growth (pertumbuhan pendapatan) rata-rata: 15.65% per tahun.
  2. Net profit growth (pertumbuhan laba/profit) rata-rata: 25.80% per tahun! Bagus sekali ini.
  3. Net profit margin (marjin laba dibanding pendapatan) rata-rata: 23.97%.
  4. Free cash flow (FCF, sisa uang tunai dari aktifitas operasi dikurangi belanja aset) rata-rata IDR -5 Miliar per tahun. Total FCF kumulatif selama 11 tahun terakhir di IDR -55.1 Miliar. Mereka banyak melakukan pembiayaan dengan kas sendiri.
  5. Owner’s earnings ratio (rasio belanja aset dibagi uang tunai dari aktifitas operasi) rata-rata: -0.02x. Ini karena arus kas mereka banyak minus (meski bukan untuk belanja aset, ya).
  6. Efficiency ratio (rasio seberapa efisien biaya setiap pendapatan perusahaan) rata-rata: stabil dengan rata-rata 0.64x per tahun.
  7. Return on equity (imbal hasil dari modal) rata-rata: 8.27% per tahun.
  8. Debt equity ratio(ratio hutang dibanding modal) rata-rata: 1.16x. DER tinggi bagi bank dan perusahaan pembiayaan itu wajar.
  9. Debt ratio (rasio kewajiban dibanding aset) rata-rata: 0.53x! Sangat likuid!

  10. Price earnings ratio (PER, rasio harga saham dibanding laba) rata-rata: 6x. Saat saya melakukan Research ini di bulan Agustus 2021, PER CFIN ada di 6.18x. Sedikit lebih mahal dari PER historisnya.

Tapi saat itu PER rata-rata industrinya ada di 11x, jadi saat PER CFIN 83% lebih murah dari rata-rata industrinya!

  1. Price to book value (PBV, rasio harga saham dibanding nilai modal) rata-rata: 0.4x. PBV mereka saat post ini saya tulis ada di 0.23x. Berarti saat ini PBV CFIN 74% lebih murah dari rata-rata historisnya!

    PBV rata-rata industrinya ada di 1.86x, atau 708% lebih besar dari PBV CFIN saat ini! Murah!

Invest di saham CFIN?

“Loh? Kok tidak ada valuasi DCF seperti biasanya?” Iya, karena kalau angka FCF kumulatif negatif, kita tidak bisa melakukan valuasi DCF.

Tapi, secara valuasi PER dan PBV, CFIN amat sangat menarik. Sekarang seperti biasa, saya selalu mencoba untuk menggali informasi lebih dalam lagi saat saya melakukan Research, untuk melihat siapa tahu masih ada “harta karun tersembunyi” di tiap perusahaan yang saya analisa.

Dan untuk CFIN, hal-hal ini yang saya dapat:

  1. Saat post ini ditulis, total kapitalisasi pasar CFIN ada di IDR 1.1 Triliun. Pendapatan mereka di akhir tahun 2020? IDR 1.8 Triliun! 63% lebih besar dari harga seluruh perusahaannya? Tidak masuk akal ini.
  2. Bahkan jumlah uang kas dan setara kas, properti, dan aset tetap CFIN ada di IDR 1.1 Triliun juga. Masa sebagian aset-aset mereka seharga seluruh perusahaan? Tidak masuk akal.
  3. Total aset mereka ada di IDR 8.7 Triliun. Itu hampir 8x lebih besar dari harga seluruh perusahaan!

Nah, cukup banyak “harta karun”nya, kan? Lalu, bagaimana kesimpulannya?

Kesimpulan

Oke, invest di CFIN, kah, kita?

Sekali lagi, secara valuasi PER dan PBV saham CFIN ini menarik. Belum lagi ada banyak “harta karun” yang menunjukkan kalau saham CFIN ini sedang under valued.

Tapiii…meski CFIN memiliki performa bisnis bagus dan harganya sedang murah, ada satu hal yang saya tidak suka dari perusahaan ini. Yaitu mereka menggunakan uang sendiri dan hutang bank untuk aktifitas bisnisnya. Masalahnya sudah hutang bank besar, mereka juga tidak bisa menghasilkan kas sendiri. Buat apa bisnis kalau tidak menghasilkan kas??

Lalu, karena mereka tidak menghasilkan uang kas, meskipun mereka menghasilkan laba, mereka tidak bisa bayar dividen. Kalaupun ada uang kas, mereka akan menggunakan itu untuk pembiayaan. Jadi, ya, mending tidak bayar dividen. Hal ini yang menyebabkan harga saham CFIN susah untuk naik.

Saya bisa lihat kenapa pak Lo Kheng Hong membeli saham ini dan kalau saya jadi beliau mungkin saya juga akan membeli saham ini. Saya yakin saham ini akan naik, mungkin bisa sampai 2x lipat, apalagi saat pasar modal kita mengalami bull market (kenaikan yang terus menerus). Kapan? Entah.

Tapi karena beliau mampu untuk menaruh uang miliaran rupiah di saham ini, jadi kenaikan 20% saja berasa. Kalau kita hanya memiliki uang jutaan rupiah dan ditaruh di CFIN? Mending ditaruh di saham-saham lain. Masih banyak kok.

Jadi, saya tidak akan berinvestasi di CFIN untuk saat ini.

Oke! Untuk sekarang, mungkin ini dulu yang bisa saya bahas. Jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya, sebelum berinvestasi. Bila ada pertanyaan, silahkan tulis komentar di bawah atau silahkan hubungi saya di sini.

Juga, kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi, atau menghibur, kalian, saya hanya ingin memberi tahu kalau iklan yang kalian lihat di blog ini akan membantu saya dalam terus menjalankan blog saya ini. Bila ada yang menarik dan kalian klik, saya berterima-kasih sebelumnya.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

2 thoughts on “CFIN: Valuasi Perusahaan Pembiayaan “Koleksi” Lo Kheng Hong”

  1. Saya juga merasa saham yang dipilih LKH itu tidak cocok untuk investor yang budget puluhan / ratusan juta, karena jangka waktunya cenderung lama & jika itu menggunakan uang dengan jumlah kecil efeknya sama sekali tidak terasa.

    Kalau berbicara Panin, saya lebih tertarik PANS.

    1. Halo Artha, terima kasih sudah berkunjung ke blog Stoxets.com ya!
      Untuk CFIN sepertinya begitu. Kalau GJTL dan BMTR sebenarnya bagus, meski saya kurang suka dengan BMTR karena kebiasaan mereka cetak saham baru terus (mendilusi pemilik saham lama yang tidak mau beli saham baru jadinya).
      PANS saya sempat lihat sekilas memang cukup menarik, lebih menarik dari PNBN dan PNLF (waktu terakhir saya lihat).

      Salam investasi!
      ETS

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)