Saham SCMA: Analisa Fundamental Surya Citra Media 2022

Halo, saya ETS, pemilik dari blog Stoxets.com dan di post kali ini saya ingin membuat update untuk analisa fundamental saham SCMA (PT Surya Citra Media Tbk.). Apa kabar?? Maaf lama tidak post analisa baru, saya cukup sibuk dengan proyek-proyek pribadi jadi tidak sempat update blog ini. Ke depannya saya usahakan untuk lebih sering lagi update, ya.

Saya terakhir kali membahas saham SCMA itu di bulan Januari 2022 lalu, dan waktu itu, di harga saat itu (IDR 304 per lembar) dengan PER dan PBV-nya yang “murah” dan secara analisa DCF (Discounted Cash Flow) harganya juga ada margin of safety sebesar 44.7%, saya merekomendasikan saham SCMA untuk diinvestasikan (investasi, ya, bukan trading…hehehe).

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Apakah masih layak dibeli?

Channel YouTube Lounge & Chill adalah sponsor blog Stoxets.com

Nah, sebelum kita bahas saham SCMA lebih lanjut, saya sebutkan lagi kalau saya akan menganalisa saham ini menggunakan metode analisa value investing saya sendiri, yang saya sebut sebagai SRRI (Screen, Review, Research, and Invest), dimana saya akan menggunakan metode valuasi standar, seperti PER dan PBV, dan metode valuasi yang lebih mendalam, seperti Discounted Cash Flow (DCF).

Lalu saya juga mau menyebutkan bahwa analisa saham ini bukan rekomendasi untuk melakukan apapun. Saya hanya berbagi informasi yang saya dapatkan berdasarkan riset saya sendiri. Bila belum pernah, silahkan baca disclaimer blog ini di sini.

Terakhir, saya juga mau mengulang kalau saya menulis angka menggunakan sistem US/UK, bukan Belanda/Indonesia. Contoh: 1 juta saya tulis 1,000,000; bukan 1.000.000. Untuk desimal saya tulis 1.5; bukan 1,5 dan untuk mata uang saya menggunakan USD / IDR; bukan “Dollar” atau “Rupiah”.

Sekarang, mari kita analisa saham ini!

Analisa saham SCMA

Saya ulang sedikit dari post sebelumnya, SCMA adalah perusahaan media yang memiliki dan mengoperasikan dua stasiun televisi FTA (free-to-air, atau “tidak berbayar”), yaitu: SCTV dan Indosiar.

SCMA adalah anak usaha dari EMTK (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk.), perusahaan holding media yang bersaing dengan BMTR (Global Mediacom Tbk.), atau MNC Media. EMTK sendiri didirikan oleh pak Eddy Kusnadi Sariaatmadja.

SCMA berdiri di tahun 1999 dengan nama PT Cipta Aneka Selaras, di tahun 2001 mereka berganti nama menjadi PT Surya Citra Media. Di tahun 2002, SCMA mengakuisisi 99.99% dari saham stasiun televisi swasta PT Surya Citra Televisi (SCTV), yang sudah berdiri dari tahun 1990, dan menjadi perusahaan publik di tahun yang sama. Tahun 2013, SCMA bergabung (“merger”) dengan PT Indosiar Karya Mandiri Tbk. (IDKM), stasiun televisi swasta yang sudah mengudara dari tahun 1995. Tahun 2019, SCMA mengakuisisi saham PT Vidio Dot Com (Vidio.com) sebesar 99%, PT Kapan Lagi Dot Com Networks (KLY) sebesar 50% plus 1 saham, dan PT Binary Ventura Indonesia (BVI) sebesar 99%. Lalu, di tahun yang sama juga, SCMA membeli saham PT Mediatama Televisi (Nexparabola) sebesar 51%.

Gambar logo SCTV. Stasiun televisi milik saham SCMA.
Gambar 1. Logo stasiun TV SCTV milik SCMA (Sumber)

Secara industri, saham SCMA masuk ke media & entertainment, sama seperti MNCN. Secara kepemilikan, berdasarkan Laporan Keuangan 1Q2022, saham SCMA dibagi seperti berikut: 71.358% dimiliki oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), 28.459% oleh masyarakat, dan sisanya dibagi antara para anggota dewan komisaris dan direksi SCMA.

Nah, sekarang mari kita bahas hasil dari tahap Research untuk SCMA di bawah ini.

Research – Valuasi PER dan PBV

Saya menggunakan laporan tahunan SCMA dari 2011 – Kuartal I Tahun 2022 (yang saya setahunkan). Berikut performa bisnis mereka sekitar 12 tahun ke belakang:

  1. Revenue growth (pertumbuhan pendapatan) rata-rata: 11.3% per tahun! Dengan angka median di 8.2% per tahun!
  2. Net profit growth (pertumbuhan laba/profit) rata-rata: 9% per tahun. Secara median, angka ini ada di 7.6%.
  3. Net profit margin (marjin laba dibanding pendapatan) rata-rata: 29.9% per tahun! Tinggi sekali ini.
  4. Free cash flow (FCF, sisa uang tunai dari aktifitas operasi dikurangi belanja aset) kumulatif positif dengan rata-rata IDR 937.4 Miliar per tahun. Total FCF selama 12 tahun terakhir di IDR 11.24 Triliun!
  5. Owner’s earnings ratio (rasio belanja aset dibagi uang tunai dari aktifitas operasi) rata-rata: 0.08x. Angka yang sangat bagus!
  6. Efficiency ratio (rasio seberapa efisien biaya setiap pendapatan perusahaan) rata-rata: stabil dengan rata-rata 0.61x per tahun. Sangat sehat.
  7. Return on equity (imbal hasil dari modal) rata-rata: 34.5% per tahun. Sangat bagus!
  8. Debt equity ratio (ratio hutang dibanding modal) rata-rata: 0.37x per tahun! Sangat sehat!
  9. Current ratio (rasio aset lancar dibanding kewajiban lancar) rata-rata: 3.48x! Sangat likuid!

  10. Price earnings ratio (PER, rasio harga saham dibanding laba) rata-rata: 26.3x. Saat saya melakukan Research ini di bulan Juli 2022, PER SCMA ada di 15.4x. 71% lebih rendah dari PER historisnya!

Saat itu PER rata-rata industrinya ada di 20x, jadi PER SCMA 30% lebih rendah dari PER industrinya! Murah!

  1. Price to book value (PBV, rasio harga saham dibanding nilai modal) rata-rata: 9.6x. PBV mereka saat post ini saya tulis ada di 2x. 363% lebih rendah dari PBV rata-rata historisnya!

    PBV rata-rata industrinya ada di 3.18x. 52.8% lebih rendah dari PBV rata-rata industrinya! Menarik!

Invest di saham SCMA?

Secara valuasi PER dan PBV, saham SCMA masih sangat menarik. Secara performa bisnis juga bagus, NPM dan ROE yang sangat tinggi dan DER yang rendah menunjukan manajemen yang kompeten dan juga SCMA sebagai perusahaan yang menguasai industrinya. (Hal yang sama juga saya bilang mengenai MNCN waktu itu. Ini terlihat seolah-olah ada duopoli di industri pertelevisian Indonesia).

Seperti biasa, saya selalu mencoba untuk menggali informasi lebih dalam lagi saat saya melakukan Research, untuk melihat siapa tahu masih ada “harta karun tersembunyi” di tiap perusahaan yang saya analisa.

Dan untuk SCMA, hal-hal ini yang saya dapat:

  1. Saat post ini ditulis, total kapitalisasi pasar saham SCMA ada di IDR 16.1 Triliun. Total aset mereka saat ini ada di IDR 9.29 Triliun. Sekitar 58% dari kapitalisasi pasarnya.
  2. Aset lancar SCMA ada di IDR 6.6 Triliun. Sekitar 41% dari kapitalisasi pasarnya.
  3. Rata-rata ROIC (“Return on Invested Capital”; atau “Imbal Hasil dari Uang Kas yang Diinvestasikan” – lebih jelasnya silahkan baca post saya mengenai ROIC) SCMA adalah 33.3%!
  1. Yang terakhir, ini yang paling menarik: SCMA memiliki 83.33% saham Vidio Dot Com (“Vidio”). Meskipun demikian, Vidio diperlakukan sebagaimana layaknya startup pada umumnya. Mereka bisa mencari funding dari luar dengan melepas sahamnya, meski SCMA tetap pemilik saham pengendali.

Di tahun 2022 ini, SCMA melepas 16.66% saham Vidio ke Concentricity Pte. Ltd, perusahaan investasi milik Affinity Equity Partners, senilai USD 150 Juta.

Berarti, bila USD 150 Juta adalah 16.66% dari Vidio, maka 100% adalah sekitar USD 900 Juta. Maka, valuasi Vidio milik SCMA adalah sebesar USD 900 Juta x 83.33% = sekitar USD 750 Juta.

Dengan kurs USD di IDR 14,450, maka kepemilikan SCMA di Vidio dalam IDR adalah IDR 10.8 Triliun, atau 67% dari kapitalisasi pasar SCMA!

Sekarang, mari lihat analisa DCF untuk saham ini.

Research – Valuasi DCF

Ini hasil analisa DCF (Discounted Cash Flow) untuk saham SCMA:

Gambar valuasi DCF untuk saham SCMA. Di harga saat post ini ditulis, IDR 218 per lembarnya, ada margin of safety 45.5% karena nilai wajarnya di IDR 9,576 per lembar. Kalau dikurangi hutang, pun, masih ada 40.7% margin of safety karena nilai wajarnya hanya berkurang menjadi IDR 368 per lembar. Menarik!
Gambar 2. Hasil valuasi DCF untuk saham SCMA
  1. Saya menggunakan nilai performa bisnis aktual (yang sudah terjadi) untuk tahun 2017 – 2021 dan nilai ekspektasi performa bisnis untuk tahun 2022 – 2027.
  2. Untuk FCF/Net Profit – Expected, saya pakai 70%. Yaitu, angka FCF/Net Profit rata-rata selama 12 tahun kebelakang, dari tahun 2011 – 2022.
  3. Untuk discount factor (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai FCF yang kita ekspektasikan/prediksikan untuk masa depan kalau nilai itu kita tarik ke hari ini), saya pakai 7.5%. Itu saya pakai angka Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun dan saya tambah 0.5%.
  4. Untuk perpetual growth (angka persentase yang kita pakai untuk kalkulasi berapa nilai pertumbuhan FCF perusahaan selama-lamanya), saya pakai 3% saja. Angka yang lebih rendah dari rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir.

Intinya, dengan amat sangat saya permudah (oversimplify), adalah nilai kumulatif FCF milik SCMA dari akhir 2022 (awal prediksi dimulai) sampai selamanya, kalau kita tarik ke hari ini akan bernilai sebesar IDR 29.6 Triliun. Selamanya itu sampai kapan? Entah. Bisa 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun ke depan.

Nilai IDR 29.6 Triliun itu, kalau kita bagi dengan jumlah saham SCMA yang beredar saat ini di 73.97 miliar lembar, akan memberikan kita nilai intrinsik per lembarnya di IDR 400.

Saat research atas saham ini saya lakukan di bulan Juli 2022, harga per lembar saham SCMA adalah IDR 218. 45.5% lebih murah dari nilai intrinsiknya!

Kalau dikurangi hutang-hurangnya bagaimana? Nilai intrinsik per lembar saham SCMA ada di IDR 368, atau 40.7% lebih murah dari nilai intrinsiknya! Sangat besar margin of safety di saham ini!

Kesimpulan

Oke, invest di saham SCMA, kah, kita? Jawabannya, sudah pasti!

Bisa dilihat, hampir semua kriteria performa bisnis SCMA sangat sehat dan harga saham SCMA juga murah! Apalagi dengan rata-rata pembayaran dividen SCMA, selama 12 tahun terakhir, sebesar IDR 12 per lembar, dengan harga saham SCMA saat ini, itu memberikan yield (“imbal hasil”) sebesar 5.5%! (Lebih tinggi dari rata-rata inflasi Indonesia selama 13 tahun terakhir di 4%).

Dan, jangan lupa, SCMA memiliki Vidio Dot Com, “YouTube-nya Indonesia” yang terbesar dan juga merupakan campuran dari user-generated content + over-the-top streaming platform, jadi seperti gabungan dari YouTube DAN Netflix. Dengan rekam jejak digital yang lebih kuat dibandingkan dengan MNCN, SCMA lebih “siap” untuk menghadapi masa era digital.

Oke! Untuk sekarang, mungkin ini dulu yang bisa saya bahas mengenai SCMA. Jangan lupa lakukan riset kalian sendiri, ya, sebelum berinvestasi. Bila ada pertanyaan, silahkan tulis komentar di bawah atau silahkan hubungi saya di sini.

Juga, kalau post ini membantu dalam perjalanan investasi, atau menghibur, kalian, saya hanya ingin memberi tahu kalau iklan yang kalian lihat di blog ini akan membantu saya dalam terus menjalankan blog saya ini. Bila ada yang menarik dan kalian klik, saya berterima-kasih sebelumnya.

Kalian juga bisa support blog ini dengan membeli buku-buku investasi bagus yang sudah saya review (daftar buku-bukunya ada di bawah). Saran saya sebelum investasi di saham, investasi di pengetahuannya dulu.

Salam investasi,

ETS

Stoxets.com

Disclaimer/Peringatan:

Kami bukan perencana keuangan, pialang saham, maupun penasihat investasi. Stoxets.com murni berfungsi sebagai blog untuk berbagi pengalaman dan pendapat kami dalam berinvestasi di berbagai jenis aset (terutama pasar saham), tidak menyarankan siapapun untuk membeli/menjual suatu jenis aset maupun saham tertentu, dan tidak akan bertanggung jawab atas siapapun yang mengalami kerugian, maupun keuntungan, uang dalam berinvestasi dimanapun setelah membaca blog ini. Investasi apapun beresiko. Lakukan riset kalian sendiri. Uang kalian, tanggung jawab kalian.

Support This Blog

Kalau kalian ingin mendukung / support blog saya, kalian bisa klik iklan-iklan yang ada di blog saya ini…

atau kalian juga bisa membeli buku-buku rekomendasi saya di bawah ini melalui tautan / link afiliasi yang saya berikan. Semua buku yang saya rekomendasikan akan saya review terlebih dahulu, kalau tidak bagus tidak akan saya rekomendasikan untuk dibeli (meski tetap akan saya review). Program afiliasi ini tidak menjadikan harga buku lebih mahal, saya hanya mendapatkan komisi dari si penjualnya saja:

Buku untuk investor saham pemula

Who Wants to be a Smiling Investor – Lukas Setia Atmaja & Thomdean: Gramedia / Tokopedia

Value Investing: Beat the Market in Five Minutes – Teguh Hidayat: Gramedia / Tokopedia

Cara Mudah Memahami Laporan Keuangan – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Learn to Earn – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Buku untuk investor saham yang lebih berpengalaman

Warren Buffett and the Interpretation of Financial Statements – Mary Buffett & David Clark: Tokopedia

One Up on Wall Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Beating the Street – Peter Lynch & John Rothchild: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. I – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal vol. II – Joeliardi Sunendar: Tokopedia

Buku untuk investor saham tingkat jendral bintang lima & pendekar silat sabuk merah

The Intelligent Investor – Benjamin Graham: Gramedia / Tokopedia

Dan masih banyak lagi!

Tolong bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Your email address will not be published.

error

Enjoying this blog? Tolong bagikan, ya! :)